Kontribusi Medsos untuk Bangsa
Judul : Kontribusi Medsos untuk Bangsa
link : Kontribusi Medsos untuk Bangsa
Kontribusi Medsos untuk Bangsa
Yuliandre Darwis, PhDKetua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI)/Dosen Komunikasi FISIP Unand
KEHIDUPAN masyarakat, bangsa, dan negara kita sudah begitu lama terusik akibat perilaku tidak bertanggung jawab sebagian kecil pengguna media sosial (medsos) yang sengaja menggunakan sarana komunikasi ini untuk kepentingan-kepentingan yang tidak benar.
Beberapa peristiwa terjadi di negeri ini seperti fitnah, saling hujat, menyebarkan kebencian karena perbedaan pandangan maupun sikap, membangun sentiman ras, suku, agama, dan perbedaan antar golongan-kejadian-kejadian tersebut seakan lumrah dalam moda komunikasi dan interaksi masyarakat melalui medsos baik melalui Facebook, Twitter, Instagram, Youtube atau yang sejenisnya.
Keresahan publik atas konten-konten medsos--termasuk yang bermuatan ghibah (membicarakan keburukan/aib orang lain), bullying, namimah (adu domba), konten pornografi, ditambah dengan masifnya penyebaran hoax alias berita palsu, fake news & mdash; membuat pemerintah harus bersikap tegas.
Presiden Republik Indonesia Jokowi pada suatu kesempatan memberikan pandangan akan kondisi medsos hari ini. Kata Jokowi, coba kita lihat sekarang, buka media sosial yang saling menghujat, saling mengejek, dan saling menjelekkan.
Kekhawatiran Jokowi cukup beralasan. Sebagai Presiden, beliau memahami betul betapa berbahayanya situasi negara yang penuh dengan kebinekaan ini jika permusuhan, perpecahan, dan tidak bersatunya bangsa ini terus digelorakan di medsos yang memiliki pengaruh besar di masyarakat.
Dengan adanya kekuatan internet dan tingkat pengguna medsos yang tinggi di Indonesia, produksi maupun penyebaran konten medsos yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika , UUD 1945, semangat terbentuknya NKRI jelas akan membawa situasi negara pada keadaan tidak menentu seperti kerawanan sosial, konflik horizontal.
Dari data yang dilansir Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), hasil survei tahun 2016 saja pengguna ponsel pintar dalam melakukan browsing melalui internet di Indonesia kini telah mencapai 89,9 juta orang.
Itu artinya kurang lebih seperempat penduduk di Indonesia memiliki akses media baru. Sementara itu Nielsen.com baru-baru ini melansir data lima besar jejaring sosial di smartphone, yaitu Facebook 178,8 juta, Instagram 91,5 juta, Twitter 82,2 juta, Pinterest 69,6 juta, dan Linkedin 60,1 juta.
Wajar jika kemudian Indonesia menempati peringkat kelima pengguna Twitter terbesar dunia setelah Amerika Serikat, Brasil, Jepang, dan Inggris. Bahkan menurut data Webershandwick di Indonesia, sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif.
Tingginya pengguna internet, ponsel pintar serta medsos jelas membawa keprihatinan bersama. Persoalan medsos menyangkut persoalan kehidupan bangsa, negara, dan bahkan keagamaan yang telah menimbulkan kerawanan masyarakat Indonesia yang majemuk dan plural.
Tidak aneh jika masyarakat mengapresiasi dan mengawal bersama fatwa MUI Nomor 24/2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amien sangat mengkhawatirkan adanya ujaran kebencian dan permusuhan melalui medsos.
Esensi Medsos
Fatwa MUI itu menurut penulis sangat tepat. Di saat euforia kebebasan menyampaikan pandangan termasuk perasaan menggunakan media secara bebas, apalagi di medsos, begitu marak, fatwa MUI mengetuk kesadaran logika publik bahwa meski pun saat ini merupakan era kebebasan, kebebasan bermedia seharusnya ada batasannya dan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan aturan yang ada, etika publik, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Sumber: sindonews.comDemikianlah Artikel Kontribusi Medsos untuk Bangsa
Anda sekarang membaca artikel Kontribusi Medsos untuk Bangsa dengan alamat link http://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/kontribusi-medsos-untuk-bangsa.html
Post a Comment