Header Ads

Krisis Qatar dan Adu Pengaruh Negara Teluk

Krisis Qatar dan Adu Pengaruh Negara Teluk - Hallo sahabat Petuah Muda, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Krisis Qatar dan Adu Pengaruh Negara Teluk, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Krisis Qatar dan Adu Pengaruh Negara Teluk
link : Krisis Qatar dan Adu Pengaruh Negara Teluk

Baca juga


Krisis Qatar dan Adu Pengaruh Negara Teluk


Banyak yang terhenyak saat Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir yang kemu dian disusul Yaman, Libia, dan Maladewa, secara sepihak memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada awal Juni lalu.


Meski ini bukan kali pertama negara-negara saling bertetangga itu bersitegang, namun pengucilan itu tak disangka banyak kalangan. Tuduhan bahwa Qatar mendukung ekstremisme menjadi alasan Saudi dkk meminggirkan negara miskin yang kini telah bertransformasi menjadi negara kaya tersebut. Namun banyak yang berpendapat, itu bukan satu-satunya alasan. Perang pengaruh disinyalir menjadi alasan utama yang sesungguhnya.


Bukan rahasia lagi, Qatar dan negara-negara tetangganya di Dewan Kerjasama Teluk mendukung pihak-pihak yang berbeda dalam perubahan politik di kawasan Arab yang disebut sebagai Musim Semi Arab (Arab Spring). Doha dianggap sebagai pendukung kelompok Islamis garis keras yang di beberapa negara berhasil mendapatkan keunggulan politik.


Qatar melindungi anggota Ikhwanul Muslimin setelah Presiden Mesir Mohamed Mursi yang merupakan pemimpin kelompok garis keras itu digulingkan oleh militer pada 2013. Padahal pemerintah Mesir menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok terlarang, sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyebutnya sebagai organisasi ‘’teroris’’.


Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di lembaga pemberitaan Saudi, SPA, Qatar dituduh mendukung berbagai kelompok teroris dan sektarian yang bertujuan untuk mengacaukan wilayah tersebut, termasuk Kelompok Ikhwanul Muslimin, Daesh (IS), dan Al- Qaedah. Namun, tudingan itu dibantah keras oleh Doha. Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan, tuduhan itu tanpa bukti dan tak berdasar.


Mereka juga menandaskan bahwa Qatar ‘’berkomitmen’’pada Piagam Dewan Kerjasama Teluk dan “menjalankan tugasnya dalam memerangi terorisme dan ekstremisme”. Di Libia yang jatuh dalam kekacauan sejak mantan pemimpin Muammar Gaddafi digulingkan dan dibunuh pada 2011, Qatar dan Saudi dkk juga berpihak pada kubu yang berbeda. Mesir dan Uni Emirat Arab mendukung tokoh kuat di militer Libia, Khalifa Haftar, sementara Qatar disinyalir mendukung tokoh tandingan Haftar. Haftar bergabung dengan pemerintah yang berbasis di Tobruk, di timur Libia, sementara pesaing Haftar mendukung pemerintah tandingan yang berbasis di Tripoli. Jadilah Haftar menuding Qatar mendukung ‘’kelompok-kelompok teroris’’.


Sementara itu terkait Yaman, Qatar dituduh mendukung pemberontak Houthi. Padahal pada kenyataannya Doha turut ambil bagian dalam koalisi pimpinan Saudi di Yaman.


Pengaruh Iran


Di sisi lain, kebijakan Presiden AS Barack Obama yang sejak 2013 berusaha keras untuk mencabut sanksi ekonomi atas Iran membuat peta politik kawasan Teluk bergeser. Dengan disepakatinya perjanjian Jeneva oleh Iran dan AS, Iran tak lagi menanggung sanksi ekonomi terkait program nuklirnya.


Amerika bahkan mengembalikan ratusan miliar aset Iran yang sebelumnya dibekukan. Ini tentu saja mengubah peta politik di kawasan. Arab Saudi kelimpungan. Sebab bagi Saudi, pencabutan sanksi berarti pintu bagi Iran untuk kembali memainkan peran yang lebih besar di Timur Tengah.


Padahal sebelumnya kebijakan penarikan pasukan AS dari Irak yang dilakukan Obama telah membuat Iran dengan leluasa memasuki Irak dan Suriah. Praktis, selama Obama memerintah, Iran berhasil memperlebar pengaruhnya ke Suriah dan Irak hingga saat ini. Kondisi ini kian panas setelah muncul laporan yang mengutip ucapan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al- Thani yang mengkritik ‘’sikap bermusuhan AS’’terhadap Iran di bawah kepemimpinan presiden baru AS Donald Trump. Meski Qatar kemudian mengatakan bahwa pernyataan yang dikutip adalah palsu dan merupakan ulah komplotan peretas ‘’yang tercela’’, tapi hal itu tak begitu saja dipercaya.


Arab Saudi, saingan utama Republik Islam Iran, memang telah lama mencemaskan ambisi regional Teheran. Karena itu tatkala Qatar tak bisa diarahkan untuk tidak berpihak pada Iran, Saudi berang. Sementara bagi Qatar yang menganut politik terbuka, tidak ada salahnya berkawan dengan Iran yang telah menjelma menjadi kekuatan Timur Tengah. Sikap Qatar ini memukul Arab Saudi yang tidak menyangka tetangga dekatnya sesama Islam Suni justru mendukung kepemimpinan Iran yang merupakan musuh bebuyutan Saudi.


Di luar itu, transformasi Qatar dari negara miskin menjadi negara makmur juga cukup mencemaskan Saudi. Sebab dengan kekayaan alamnya yang melimpah, Qatar tidak lagi mudah ditundukkan oleh Arab Saudi selaku seniornya di kawasan Timur Tengah.


Di samping itu, Qatar memiliki stasiun televisi Al Jazeera yang pengaruhnya sangat mendunia hingga menyaingi CNNdan BBC. Kekuatan media ini membuat Qatar tambah berpengaruh. Ditambah lagi militer Amerika menempatkan ribuan pasukannya di pangkalan yang ada Qatar. Ini menbuat membuat Qatar tak hanya sangat kuat secara ekonomi, namun juga secara diplomasi dan militer. Dan kondisi ini sangat tidak disukai Arab Saudi. (Maratun Nashihah-53)


Comments

comments

Sumber: suaramerdeka.com


Demikianlah Artikel Krisis Qatar dan Adu Pengaruh Negara Teluk

Sekianlah artikel Krisis Qatar dan Adu Pengaruh Negara Teluk kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Krisis Qatar dan Adu Pengaruh Negara Teluk dengan alamat link http://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/krisis-qatar-dan-adu-pengaruh-negara.html
Powered by Blogger.