Header Ads

Menjadi Pelopor Fikih Sosial

Menjadi Pelopor Fikih Sosial - Hallo sahabat Petuah Muda, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Menjadi Pelopor Fikih Sosial, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Menjadi Pelopor Fikih Sosial
link : Menjadi Pelopor Fikih Sosial

Baca juga


Menjadi Pelopor Fikih Sosial


SM/M Noor Efendi KEGIATAN MENGAJI: Sejumlah santri Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati mengikuti kegiatan rutin mengaji.(24)

SM/M Noor Efendi
KEGIATAN MENGAJI: Sejumlah santri Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati mengikuti kegiatan rutin mengaji.(24)


BERDIRI pada 1910, Pondok Pesantren Maslakul Huda tergolong pesantren tua di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati. Secara turun temurun, pesantren yang pada awalnya bernama Polgarut —sebutan salah satu kampung di Kajen, Gempol Garut— itu terus berkembang. Pesantren yang kini memiliki lebih dari 500 santri itu didirikan oleh KH Mahfudh Salam (ayah KH MA Sahal Mahfudh).


Secara estafet, pengelolaan berlanjut dari sang pendiri hingga cucunya saat ini, KH Abdul Ghoffar Rozien. Di antara sekitar 30-an pesantren di desa yang terletak 18 kilometer dari pusat Kota Pati ini, nama Maslakul Huda terhitung paling populer.


Itu tidak lepas dari seringnya tamu dari berbagai kalangan di belahan dunia yang berkunjung ke rumah pengasuh, KH Sahal Mahfudh, sebelum wafat pada 24 Januari 2014. Ketokohan kiai kharismatik yang biasa disapa Mbah Sahal ini memang tidak hanya diakui Indonesia, tetapi juga kalangan internasional.


Mbah Sahal, yang sebelum wafat menjabat Rais Aam PBNU sekaligus Ketua Umum MUI, merupakan begawan yang selama ini dikenal santun, tegas, dan konsisten memegang prinsip sehingga menjadi teladan bagi banyak kalangan. Keberadaan pesantren yang berdiri di atas lahan 5.000 m2 ini tidak bisa dilepaskan dari Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) atau yang kerap disebut Matolek.


Lembaga yang berdiri 1912 ini dulunya bernama Sekolah Arab, yang kemudian berkembang dengan menerapkan kurikulum klasikal dan menganut sistem perjenjangan mulai kelas 1-6 dan 1-3 Tsanawiyah dan terus berkembang lagi menjadi Aliyah dan Diniyah. Di luar santri remaja, setahun belakangan Maslakul Huda juga mengakomodasi santri anak-anak berusia di bawah 15 tahun.


Mereka dibimbing secara tersendiri dan terpisah dari santri remaja oleh pembimbing khusus. Tiap 10- 15 santri dibimbing seorang pembimbing. Santri Maslakul Huda tidak hanya belajar di pesantren. Mereka juga ngangsu kaweruh di Matolek.


Pesantren fokus utamanya pendalaman materi dari Matolek. Itu berlaku untuk pesantren di Kajen, bukan hanya di Maslakul Huda saja. Di luar fungsi pendidikan santri, Pesantren Maslakul Huda juga memiliki Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat. Organisasi nirlaba itu bekerja sama dengan industri, di antaranya perusahaan kacang di Pati.


Sejak 1980, biro yang berelasi dengan masyarakat sekitar pesantren itu membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan sampai saat ini masih dirawat kendati jumlahnya terus berkurang. Sebab, sebagian bidang garapannya telah dicukupi pemerintah melalui program PNPM dan lainnya. Sepeninggal Mbah Sahal, Maslakul Huda terus bergerak.


Sang putra, KH Abdul Ghaffar Rozien meneruskan pengelolaan pesantren yang kini telah menginjak usia lebih dari seabad. Kendati telah wafat, tradisi di pesantren tidak berubah. Maslakul Huda tetap memegang dan menonjolkan pendalaman materi agama melalui sejumlah kitab, terutama ushul fikih, fikih, dan pengenalan kewirausahaan. Di luar itu, santri juga dibekali kemampuan bahasa Arab dan Inggris.


Pilih Spesialis


Santri secara khusus diarahkan memiliki spesialisasi ushul fiqh. Itu sebagai upaya meneruskan keilmuan yang dikuasai Mbah Sahal yang lekat dengan predikat pelopor dan pembaharu fikih sosial.


”Saat ini kami sedang membangun mahad dengan spesialisasi ushul fiqh, yang merupakan spesialisasi keilmuan Kiai Sahal. Keilmuan di pesantren lebih diperdalam lagi. Karena era sekarang yang menjadi domain pesantren terasa sudah mulai hilang,” ujar KH Abdul Ghoffar Rozien. Hal itu ditempuh dengan mengajak alumni untuk tetap tinggal di pesantren.


Mereka dilibatkan merancang kurikulum dan strategi pelaksanaan untuk pengemblengan santri dengan spesialisasi tersebut. Program itu diproyeksikan efektif diberlakukan pada 2-3 tahun ke depan. ”Syawal ini akan kami mulai. Secara bertahap terus kami evaluasi untuk menyempurnakan,” kata putra tunggal Mbah Sahal yang akrab disapa Gus Rozien itu.


Di luar itu, sinergitas komponen pesantren dan PIM yang terdiri atas Madrasah Diniyah, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Mathaliíul Falah (Staimafa) selalu dijaga dan dikembangkan. Untuk jenjang perguruan tinggi sudah berjalan pendalaman fikih sosial dengan munculnya Fiqh Social Institute (Fisi). Itu sejalan dengan misi kampus yang mentradisikan riset berbasis pesantren.


Gus Rozien menjelaskan, Pondok Pesantren Maslakul Huda saat ini fokus mencetak kader bangsa yang sarat dengan ilmu dan pengetahuan agama, sehingga perlu orientasi pada pendalaman ushul fiqh dan fikih. Itu untuk menjawab problematika masyarakat yang terus berkembang sesuai masa. Rumusan fikih yang dibangun pada masa lampau dinilai tidak kontekstual sehingga kurang memadai untuk menjawab persoalan terkini.


Itu lantaran situasi sosial, politik, dan budaya telah berbeda. ”Untuk itu perlu bermadzhab manhajiy (metodologis) dan tidak hanya qauly (teks). Tidak hanya menerima produk jadi, tetapi dengan cara bermetodologi,” tandasnya. (M NoorEfendi-39)


Comments

comments

Sumber: suaramerdeka.com


Demikianlah Artikel Menjadi Pelopor Fikih Sosial

Sekianlah artikel Menjadi Pelopor Fikih Sosial kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Menjadi Pelopor Fikih Sosial dengan alamat link http://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/menjadi-pelopor-fikih-sosial.html
Powered by Blogger.