Header Ads

Siapa Menangguk Untung?

Siapa Menangguk Untung? - Hallo sahabat Petuah Muda, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Siapa Menangguk Untung?, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Siapa Menangguk Untung?
link : Siapa Menangguk Untung?

Baca juga


Siapa Menangguk Untung?


SULIT untuk menafikan bahwa kemelut yang kini membelit Qatar dan negara-negara tetangganya di Teluk tak terkait dengan jurus dagang Donald Trump. Faktanya pemutusan hubungan diplomatik terhadap Qatar dilakukan tak lama setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Arab Saudi.


Trump pun mengakui dia turut andil menciptakan krisis tersebut. Secara implisit dalam cuitannya di Twitter, dia mengindikasikan bahwa dialah yang ‘’menghasut Saudi dkk untuk mengucilkan Qatar. “Dalam kunjungan saya ke Timur Tengah baru-baru ini saya tegaskan bahwa tidak boleh ada lagi pendanaan bagi ideologi radikal,” kata Trump dalam cuitannya di Twitter, Selasa (6/6), sehari setelah Riyadh dkk memutuskan hubungan dengan Doha. ‘’Menyenangkan melihat kunjungan (saya) ke Arab Saudi untuk bertemu Raja dan 50 negara membuahkan hasil.


Mereka (negara-negara Arab) mengatakan akan mengambil langkah tegas untuk pendana terorisme, dan semua menunjuk ke Qatar. Mungkin ini akan menjadi awal dari akhir horor terorisme!’’ Cuitan Trump ini membuat anak buahnya kelabakan. Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan AS berupaya keras meminimalisasi kerusakan diplomatik akibat tweet serampangan Trump. Terlebih, Qatar sesungguhnya menjadi pusat operasi udara militer AS di Arab.


Di Qatar, berdiri Al Udeid, pangkalan udara terbesar AS di Timur Tengah. Dari Al Udeid itu, jet-jet tempur AS bertolak untuk menyerang IS di Suriah dan Irak. Apalagi ucapan Trump via Twitter itu benar-benar bertolak belakang dengan pernyataannya saat bertemu para pemimpin Timur Tengah di Riyadh, Arab Saudi, termasuk Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Tsani. Saat berbincang dengan Tamim, Trump mengatakan AS dan Qatar telah menjadi ‘’teman untuk waktu lama’’ dan mereka membahas pembelian Qatar atas ‘’banyak perlengkapan militer yang memukau’’. Maka kontras ketika selang dua pekan kemudian, setelah Saudi dan sekutu-sekutu Arab-nya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, Trump berkoar-koar menunjukkan dukungannya terhadap langkah Saudi atas Qatar.


Dan yang lebih aneh lagi, hanya berselang beberapa hari setelah cuitan Trump itu, Amerika menyetujui penjualan pesawat tempur jenis F-15 senilai US$ 12 miliar ke Qatar.


Birol Baskan, asisten profesor di Georgetown University School of Foreign Service di Qatar, dalam wawancaranya dengan Sputnik Radio, menilai apa yang dilakukan Washington kontraproduktif dengan tuduhan yang sebelumnya dilontarkan kepada Qatar. ‘’Seperti yang dikatakan banyak pejabat Qatar, jika Qatar adalah negara teroris, mengapa AS menyediakan jet-jet yang sangat canggih ini?


Itulah signifikansi jangka pendek dari langkah tersebut,’’ kata Baskan. ‘’Langkah (AS) ini pada dasarnya membersihkan atau mengembalikan reputasi Qatar, bukan sebagai negara teroris, tapi sebagai negara dengan keadaan normal,’’ imbuh Baskan.


Lantas apa yang sesungguhnya tengah diperankan Trump? Kata kuncinya jurus dagang. Siapa memberi untung, dia yang didukung. Dengan cara mengkapitalkan isu terorisme (Hamas, Ikhwanul Muslimin, Hizbullah, dan anti Iran) sebagai ancaman keamanan Arab Saudi dkk, Amerika berhasil mendulang untung dengan meraup uang, tak hanya dari Qatar tapi juga dari Saudi dkk. Dalam lawatan luar negeri pertamanya sebagai presiden, Trump memastikan kesepakatan pembelian paket senjata AS oleh Arab Saudi senilai 350 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 4.666 triliun selama 10 tahun. Dari total nilai kesepakatan itu, pemborongan senjata AS senilai hampir 110 miliar dolar AS atau lebih dari Rp1.333 triliun akan segera diberlakukan. Jelas, posisi AS dibawah Trump sebagai inisiator Arab Saudi memutus hubungan dengan Qatar yang pelaksanaannya tidak jauh dari KTT Arab- Islam-AS tidak perlu diragukan.


Trump konsisten mengutamakan kepentingan AS dengan cara memeras kantong Arab Saudi dan Qatar demi kantong AS. Tentu saja kebijakan Trump ini seiring dengan program bantuan untuk Israel untuk memangkas Hamas, Ikhwanul Muslimin, dan Iran. (Nashihah- 53)


Comments

comments

Sumber: suaramerdeka.com


Demikianlah Artikel Siapa Menangguk Untung?

Sekianlah artikel Siapa Menangguk Untung? kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Siapa Menangguk Untung? dengan alamat link http://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/siapa-menangguk-untung.html?m=0
Powered by Blogger.