Siapapun Berhak Dapat Pendidikan, 3 Penyandang Disabilitas Ini Berhasil Belajar di Luar Negeri
Judul : Siapapun Berhak Dapat Pendidikan, 3 Penyandang Disabilitas Ini Berhasil Belajar di Luar Negeri
link : Siapapun Berhak Dapat Pendidikan, 3 Penyandang Disabilitas Ini Berhasil Belajar di Luar Negeri
Siapapun Berhak Dapat Pendidikan, 3 Penyandang Disabilitas Ini Berhasil Belajar di Luar Negeri
Kisah inspiratif ini datang ari ketiga orang ini yang nggak pantang menyerah dan sukses lanjut kuliah di luar negeri.

WowKeren.com - Hidup seringkali memberikan halang rintang dan cobaan yang mungkin terasa berat. Mulai dari putus hingga kecelakaan yang nggak diduga. Namun sebagai manusia, ada baiknya tantang ini semakin membuat kuat dan bangkit dari cobaan itu.
Misalnya seperti yang dilakukan 3 orang penyandang disabilitas ini mampu membuatmu tergugah. Dengan ketidakmampuan mereka malah bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri. Berikut ulasannya:
Taufiq Effendi

Namanya Taufiq Effendi. Laki-laki asal Bandung ini menjadi penyandang disabilitas sejak berumur 10 tahun. Sebuah kecelakaan nahas merenggut penglihatannya dan membuatnya harus menjadi tunanetra seumur hidupnya.
Kecelakaan ini tidak hanya merenggut penglihatannya namun juga kesempatannya untuk melanjutkan sekolah. Dia menjalani berbagai metode baik ilmiah maupun alternatif untuk mengembalikan penglihatannya, akan tetapi seluruh upaya itu tidak membuahkan hasil. Dia harus belajar menerima keterbatasannya.
Semangat juang Taufiq namun tidak pernah luntur. Dia terus bermimpi untuk dapat berkeliling dunia. Meski saat itu Taufiq merasa masa depannya sangat suram, Taufiq tidak bisa menghapuskan mimpinya untuk menapaki negara-negara asing. Satu-satunya cara yang diyakini dapat membawa dirinya melanglang buana menurut Taufiq adalah dengan melanjutkan S1.
Karena itu dia meminta bantuan dari para sukarelawan untuk membantunya belajar. Dia berniat mengikuti SPMB agar dapat melanjutkan S1. Usaha kerasnya terbayar, Taufiq berhasil masuk ke Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Jakarta.
Hasil tidak pernah mengingkari usaha. Taufiq berhasil mendapatkan kesempatan pertamanya untuk keluar negeri saat duduk di semester 6. Dia mendapat beasiswa ke Jepang untuk mempresentasikan makalahnya di sebuah konferensi internasional.
Dari situ, Taufiq semakin giat mencari beasiswa ke luar negeri. Dengan berbagai upaya, dia berhasil mendapat 8 beasiswa yang membawanya berkeliling dunia. Kini, Taufiq telah kembali ke Indonesia dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama Global Umaro Education (GLUE).
Terdorong oleh keinginannya menolong sesama, Lembaga Pendidikan GLUE bertujuan untuk memberikan beasiswa penuh pendidikan bahasa Inggris untuk mereka yang kurang mampu atau menyandang disabilitas.
Muhammad Zulfikar Rahmat

Fikar panggilannya. Pria yang berasal dari Pati ini mengalami Asphyxia Neonatal, sebuah gangguan medis yang mengganggu saraf motoriknya sehingga Fikar tidak dapat berbicara dengan lancar dan membuat tangannya selalu bergetar sehingga ia tidak dapat menulis. Kekurangan Fikar ini membuatnya di-bully dan diejek selama bersekolah di Indonesia.
Beruntung Fikar dapat pindah ke Qatar saat berusia 15 tahun dan melanjutkan studinya di sana. Meski begitu, hidup tidak lantas menjadi mudah bagi Fikar. Dia sempat ditolak oleh berbagai sekolah karena keterbatasannya. Dia juga mengalami berbagai diskriminasi dalam kesehariannya. Keterbatasannya juga membuatnya harus banyak bergantung pada bantuan orang lain.
Meski begitu, Fikar tidak patah semangat. Dia akhirnya berhasil melanjutkan S1-nya di Universitas Qatar dengan beasiswa. Kerja kerasnya membuahkan hasil, Fikar berhasil meraih IPK 3,93 dari studi Hubungan Internasional. Dia dinyatakan sebagai Sarjana dengan predikat terbaik di Universitas Qatar.
Tidak berhenti di situ, Fikar melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Dia mengambil program master dan doktoralnya di Universitas Manchester, yang dinyatakan sebagai universitas terbaik ke-29 di dunia menurut data dari QS World.
Nefertiti Karismaida

Nefertiti Kharismaida atau yang kerap disapa sebagai Inef ini mengalami gangguan pendengaran sensorineural tingkat berat sejak berumur 7 tahun. Dia tidak dapat mendengar suara di frekuensi tinggi yang membuatnya kesulitan untuk berkomunikasi. Orang tua Inef namun terus berupaya agar Inef dapat melanjutkan hidup dengan senormal mungkin.
Kedua orang tua Inef memberikannya alat bantu dengar yang meski tidak dapat membuat pendengaran Inef menjadi normal namun setidaknya mampu mebuatnya jadi sedikit lebih baik.
Inef berusia 18 tahun saat memutuskan untuk berkuliah di luar negeri.
Meski menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, Inef akhirnya berhasil diterima di University of North Carolina, Asheville, untuk pendidikan sarjananya. Jurusan yang diambilnya adalah International Studies, di mana Inef berkonsentrasi pada ilmu lingkungan hidup dan ilmu politik.
Sebelum itu, Inef juga pernah mendapat beasiswa untuk mempelajari sastra Inggris selama satu tahun di Hiram College, Ohio, Amerika Serikat. Inef bahkan menerima International Students Award atas prestasinya dalam mengangkat kesadaran lingkungan dan isu disabilitas di berbagai tempat.
Kisah ketiga penyandang disabilitas yang sangat inspiratif ini membuktikan bahwa kerja keras dan tekad akan selalu membuahkan hasil. Mimpi mereka yang sangat besar berhasil diraihnya dengan usaha yang juga luar biasa. Kamu pun juga bisa menjadi seperti mereka, melanjutkan studi dan berprestasi di negara orang. (wk/kr)
'; htmlcode += 'Beli Sekarang ...
'; htmlcode += '};
Demikianlah Artikel Siapapun Berhak Dapat Pendidikan, 3 Penyandang Disabilitas Ini Berhasil Belajar di Luar Negeri
Anda sekarang membaca artikel Siapapun Berhak Dapat Pendidikan, 3 Penyandang Disabilitas Ini Berhasil Belajar di Luar Negeri dengan alamat link http://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/siapapun-berhak-dapat-pendidikan-3.html
Post a Comment