Teror Polisi di Hari Nan Fitri
Judul : Teror Polisi di Hari Nan Fitri
link : Teror Polisi di Hari Nan Fitri
Teror Polisi di Hari Nan Fitri
:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/1520271/original/027846200_1488170970-Teroris4.jpg)
Kepala Lingkungan 18, Kelurahan Binjai, Hari Isnaini mengungkapkan, rumah yang ditempati teroris SP merupakan rumah keluarganya. Di rumah berwarna cat hijau tersebut SP tinggal bersama satu istri dan empat orang anaknya.
"Di sini dia tinggal sejak kecil, karena ini rumah orangtuanya. Tapi memang jarang bergaul sama orang sini," terang dia.
Hari mengaku sempat menegur SP perihal tulisan ISIS yang terdapat di dinding tempat tinggal salah satu warganya itu. Saat ditegur, SP mengatakan jika tulisan tersebut merupakan kenang-kenangannya karena pernah ke Timur Tengah.
SP diketahui pernah pergi ke Suriah pada 2013 lalu. Kepergian SP ke Suriah untuk bergabung dan belajar tentang ISIS.
Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting mengatakan, informasi tersebut diketahui dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pihaknya bekerja sama dengan Densus 88.
"Pengakuannya, SP ke Suriah selama enam bulan, info itu juga dibenarkan oleh istri SP, Masni Wanita Damanik," kata Rina, Senin 26 Juni.
Setelah pulang dari Suriah dan kembali ke Indonesia, SP terus mempelajari pemahaman radikalisme yang disampaikan ISIS melalui dunia maya. Selanjutnya SP mengembangkan dengan keluarganya dan orang-orang terdekat di sekitarnya.
"SP tetap berkomunikasi melalui internet dengan pihak ISIS, kemudian disebarkan," jelas Rina.
Sementara dari penggeledahan dilakukan di rumah SP, Jalan Pelajar Timur, Lingkungan 18, Gang Kecil, Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, polisi menyita beberapa barang bukti berupa dokumen tentang cara-cara melakukan serangan bunuh diri, buku untuk anak-anak tentang kisah perang, buku-buku pemahaman tentang ISIS, poster bergambar pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi, dan pelat pencetak serta cakram VCD.
Selain itu, polisi juga telah menggerebek dua lokasi percetakan yang berada di kawasan Jalan Sisingamangaraja. Percetakan diduga mencetak berbagai logo ISIS. Pencetakan logo ISIS itu diduga untuk kepentingan 2 tersangka penyerangan Mapolda Sumut.
"Percetakan itu digerebek karena diduga pelaku mencetak logo ISIS di sana," terang Rina.
Dari lokasi percetakan, polisi mengamankan berbagai barang bukti berupa kertas dan pelat yang berlogo ISIS. Dua percetakan yang digerebek adalah Multi Grafika dan Sinar Baru.
Polri pun yakin pelaku merupakan jaringan Bahrun Naim.
"Jaringan Bahrun Naim. Karena di rumah SP ada ditemukan bendera ISIS, buku tulis, VCD, dan ada gambar Albaghdadi," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto.
Atas kasus ini, polisi menetapkan tiga tersangka. Mereka adalah Syawaluddin Pakpahan (SP), warga Medan Denai yang kini dirawat di RS Bhayangkara karena luka tembak di kaki. Kemudian Ardial Ramadhan (AR) yang meninggal dunia karena ditembak usai menyerang anggota Polri Aiptu Martua Sigalingging di pos penjagaan Polda Sumut.
Ketiga, Boboy (17), warga Sisingamangaraja, Medan yang juga berprofesi sebagai sopir dan berperan melakukan survei ke Polda Sumut selama satu minggu penuh. Keempat, Firmansyah Putra Yudi alias FPY (32) yang berperan merencanakan serangan ke lokasi kejadian.
Atas perbuatannya, para pelaku yang masih hidup, yakni Syawaluddin, Boboy, dan Firmansyah Putra Yudi dijerat dengan Pasal 6 dan 7 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan atau Pasal 340 KUHP Pidana.
Sumber: liputan6.comDemikianlah Artikel Teror Polisi di Hari Nan Fitri
Anda sekarang membaca artikel Teror Polisi di Hari Nan Fitri dengan alamat link http://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/teror-polisi-di-hari-nan-fitri.html
Post a Comment