Berpuasa di Jepang, WNI Dituntut Jaga Nama Baik Islam
Judul : Berpuasa di Jepang, WNI Dituntut Jaga Nama Baik Islam
link : Berpuasa di Jepang, WNI Dituntut Jaga Nama Baik Islam
Berpuasa di Jepang, WNI Dituntut Jaga Nama Baik Islam
MENJALANI ibadah puasa Ramadan tentunya bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Bagi sebagian orang, menahan lapar dan dahaga tentunya sulit dijalani. Namun bagi warga Indonesia yang mayoritas beragama Islam, menjalani puasa secara bersama-sama tentunya akan terasa lebih ringan.
Tetapi berbeda cerita dengan warga negara Indonesia (WNI) Muslim yang tengah menetap di luar negeri sebagai minoritas. Pastinya cobaan beribadah selama Ramadan akan lebih berat. Selain itu, para WNI yang berpuasa di sana juga harus menyesuaikan diri dalam berinteraksi dengan mereka warga non-Muslim yang tidak berpuasa.
BERITA REKOMENDASI
Meski menjalani ibadah puasa, WNI Muslim yang berada di negeri orang dituntut tak boleh bermalas-malasan dan tetap beraktivitas dengan penuh tanggungjawab dalam keseharian. Hal ini juga dimaksudkan untuk menjaga nama baik agama Islam. Pandangan itu diungkapkan salah satu WNI yang kini tengah menetap di Jepang, Firman Bagja Juangsa.
"Kami di sini juga dituntut untuk membawa nama baik Islam. Jangan sampai Ramadan membuat kinerja kita di kampus atau kantor menurun. Kita harus bisa menunjukkan juga bahwa Ramadan bukan merupakan halangan, tapi membawa berkah buat kita sebagai Muslim. Sebagai pendatang dan minoritas, kami juga harus bisa menghormati budaya orang Jepang di sini. Misalnya tidak menggangu orang lain ketika kita salat atau kegiatan lainnya," ujar Firman, ketika dihubungi Okezone belum lama ini.
Pria berusia 31 tahun tersebut menambahkan, meskipun lama berpuasa di Jepang lebih lama ketimbang di Tanah Air yakni sekira 16 jam, ia mengaku tidak mengalami kesulitan berarti. Selain itu, para WNI baik itu mahasiswa, pegawai kantoran maupun para pekerja berat yang mengandalkan fisik tetap bersemangat dalam menjalani puasa.
"Yang paling terasa bedanya berpuasa di sini adalah orang jepang tidak shaum (puasa), jadi sudah terbiasa dengan pemandangan restoran yang terbuka dan sebagainya. Kalau kesulitan dalam berpuasa tergantung dengan aktivitas masing-masing. Kalau bagi mahasiswa atau pegawai kantoran, relatif hanya waktunya dan makanan saja ya. Tapi bagi teman-teman yang kerjanya dengan fisik seperti teknisi atau pegawai lapangan, mungkin beban kerja yang berat tidak dikurangi meskipun Ramadan. Tapi saya kenal banyak teman-teman yang tetep semangat shaum walaupun bekerja di lapangan," imbuh ayah satu putri tersebut.
Saat ini WNI Muslim di Jepang memiliki banyak kemudahan untuk menjalani puasa Ramadan. Di antaranya yaitu setelah hadirnya Masjid Indonesia di Tokyo yang resmi berdiri pada 26 Mei 2017. Masjid yang dinamai Masjid Indonesia-Tokyo itu menjadi mempermudah ibadah bagi para Muslim dan menjadi wadah kegiatan Islam. Selain itu, Muslim Jepang khususnya Tokyo kini juga tidak kesulitan untuk menemukan makanan halal.
"Beberapa waktu terakhir ini sudah mulai banyak restoran halal dan juga tempat shalat di stasiun dan mal-mal besar di Tokyo. Alhamdulillah memudahkan kami sebagai Muslim di Jepang," tukasnya.
Muslim di Jepang sendiri diketahui menjalani ibadah puasa lebih lama dari Indonesia yaitu sekira selama 16 jam. Waktu subuh biasanya tiba sekira pukul 02.30 dini hari dan waktu berbuka tiba sekira pukul 18.56 waktu setempat. Ramadan kali ini juga diketahui datang sebelum puncak musim panas, sehingga memudahkan Muslim untuk berpuasa.
Sumber: okezone.comDemikianlah Artikel Berpuasa di Jepang, WNI Dituntut Jaga Nama Baik Islam
Anda sekarang membaca artikel Berpuasa di Jepang, WNI Dituntut Jaga Nama Baik Islam dengan alamat link https://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/berpuasa-di-jepang-wni-dituntut-jaga.html
Post a Comment