Melestarikan Thong Thong Prek Melalui Festival
Judul : Melestarikan Thong Thong Prek Melalui Festival
link : Melestarikan Thong Thong Prek Melalui Festival
Melestarikan Thong Thong Prek Melalui Festival
Salah satu grup peserta ketika tampil dalam festival thong-thong prek. (suaramerdeka.com/Kasirin Umar)
BATANG, suaramerdeka.com – Di sejumlah daerah, orang mengenal jenis musik thong thong prek, dengan berbeda sebutan. Musik tradisional yang terbuat dari bambu itu dimainkan setiap tahun oleh sejumlah anak muda di malam bulan Ramadan. Mereka berkeliling kampung, sekitar pukul 02.00 dini hari, dari gang (lorong) yang satu ke gang berikutnya dengan tujuan untuk membangunkan warga agar segera bersantap sahur.
Sebagian warga ada yang merasa terganggu, karena berisik. Namun warga yang merasa terganggu, jumlahnya tidak seberapa, dibanding jumlah warga merasa terbantu. Karena ketika terdengar thong-thong prek lewat, warga yang sedang terlelap tidur langsung terbangun, tidak perlu menunggu jam waker berdering, untuk bersiap melakukan santap sahur.
Adalah, di Desa Subah, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang. Musik thong-thong prek yang merupakan warisan budaya Jawa dan sudah berjalan turun-temurun itu dilestarikan. Bahkan setiap di bulan Ramadan difestivalkan alias dilombakan, dengan berbagai hadiah yang menarik. Kalau yang dikenal selama ini, musik thong-thong prek, semua personel yang memainkan alat tetabuhan, adalah laki-laki. Tetapi dalam festival thong-thong prek melibatkan sejumlah penari dari gadis-gadis remaja.
Ketua festival thong-thong prek Desa Subah, Abdul Ghoni mengatakan, festival thong-thong prek, di desanya, sudah diselenggarakan sejak 15 tahun yang lalu di setiap bulan Ramadan.
“Kami setiap bulan Ramadan mengadakan festival thong-thong prek, bertujuan untuk melestarikan budaya dan menumbuhkankembangkan kreativitas pemuda desa dalam olah seni. Dalam festival, melibatkan pemain wanita remaja sebagai penari. Meski pun ketika thong thong prek saat bertugas untuk membangunkan warga bersantap sahur, semua personel adalah pria,” terang Abdul Ghoni, Sabtu malam (17/6).
Ia menambahkan, dalam festival musik thong-thong prek, setiap grup, wajib menyanyikan lagu-lagu bertemakan sahur yang bernuansa islami. Syair lagu yang dilantunkan, tambah Abdul Ghoni, mengandung unsur edukasi dan syiar agama Islam.
Bupati Batang, Wihaji, yang hadir dalam festival thong-thong prek, sangat mengapresisasi terhadap kreativitas remaja Desa Subah.
“Kegiatan ini merupakan tradisi turun temurun yang sangat luar biasa dan dengan semangat pemudanya yang kreatif, inovatif, bisa menjadi hiburan bagi masyarakat desa,” kata Wihaji
Bupati berharap kegiatan tersebut untuk dikembangkan terus agar menjadi sebuah destinasi baru untuk dikenalkan kepada khalayak umum. Sehingga bisa menarik pengunjung luar desa atau daerah yang bisa membangkitkan simpul-simpul ekonomi bagi masyarakat.
“Kami selaku pemerintah daerah akan mendukung tradisi ini yang menjadi ciri khas karakter lokal yang masing-masing desa mempunyai keunikan seni,” katanya.
Ke depan, sebut Wihaji, festival thong-thong prek bisa dikembangkan dan dibesarkan sekreatif mungkin dengan model yang inovatif. Sehingga lebih menarik lagi. Juga perlu ada sentuhan seni yang lebih menarik lagi termasuk model busana yang dipakai. Namun tetap tidak melanggar etika (kesopanan), dan tetap menunjukkan budaya lokal.
Sementara Abdul Ghoni menambahkan, festival yang digelar di Desa Subah tersebut diikuti oleh 28 grup. Mereka berasal dari sejumlah pedukuhan di Desa Subah, juga dari luar desa. Yakni dari Desa Menjangan, Sengon, Sengonsari, serta dari Desa Limpung, Kecamatan Limpung.
Dalam kesempatan tersebut Bupati Batang, Wihaji, memberi tambahan hadiah, agar peserta festival lebih bersemangat. Untuk juara I Rp 1 juta, juara II Rp 750 ribu dan juara III Rp 500 ribu.
(Kasirin Umar/CN40/SM Network)
Demikianlah Artikel Melestarikan Thong Thong Prek Melalui Festival
Anda sekarang membaca artikel Melestarikan Thong Thong Prek Melalui Festival dengan alamat link https://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/melestarikan-thong-thong-prek-melalui.html
Post a Comment