Safari Ramadan Polri-MUI: Tangkal Radikalisme dan Intoleransi
Judul : Safari Ramadan Polri-MUI: Tangkal Radikalisme dan Intoleransi
link : Safari Ramadan Polri-MUI: Tangkal Radikalisme dan Intoleransi
Safari Ramadan Polri-MUI: Tangkal Radikalisme dan Intoleransi
Kunjungan kerja Safari Ramadan ini, Lutfi menuturkan seputar aspek yang memerlukan perhatian. “Perhatian itu di antaranya, aspek ideologi, politik, sosial budaya, ekonomi, keamanan dan sebagainya,” kata jenderal bintang tiga ini.
Hal-hal yang berkaitan dengan politik misalnya, lanjut Lutfi, telah memberikan dampak. Di antaranya, politik telah memengaruhi kehidupan beragama. “Kalau di Jakarta, ada beberapa tempat ibadah dikait-kaitkan dengan hak memilih seorang calon. Hal tersebut menjadi perhatian kita untuk diperbaiki,” jelas alumni Akpol 1984 ini.
Sementara itu, Yunahar Ilyas menerangkan, tujuan utama salat untuk mendapatkan pahala. Itu namanya salat ukhrawi. Nah dimana letak tawasuth-nya? “Letak tawasuth pada hal-hal yang bersifat duniawi, harus ada ukhrawinya. Pada hal-hal yang bersifat ukhrawi, harus ada duniawinya,” ungkapnya.
Dia menguraikan, pekerja untuk cari gaji, tidak sembarang gaji, tetapi juga berharap mendapatkan pahala dari Allah. “Salat tidak hanya untuk mendapatkan pahala, tetapi juga ada nilai-nilai objektif dari salat yang dapat kita terapkan pada kehidupan di dunia ini,” pesannya.
Orang Islam yang salat, orang yang paling bersih, termasuk toiletnya. “Negara yang berbudaya yang beradab itu ukurannya adalah kebersihan toilet,” katanya. Dicontohkan, bila berkunjung ke negara tetangga, jalan tol dari Singapura sampai Kuala Lumpur, sampai ke Klantan hingga ke Thailand, di kiri kanan jalan ada banyak SPBU.
“Iklan yang mereka jual adalah, isilah BBM di tempat kami. Toilet kami paling bersih,” terangnya. Salat, lanjutnya, juga mengajarkan disiplin. Salat itu disiplin, teratur barisannya. Kalau diadakan upacara di lapangan, mengaturnya susah, depan berdiri, belakang duduk. Belakang berdiri, depan duduk. Tepi di Masjidil Haram, jamaah salat bisa teratur.
Peringatan Nuzulul Quran mengambil tema Dengan Hikmah Peringatan Nuzulul Quran, Polri Bersama Masyarakat Membangun Ukhuwah Islamiyah dalam rangka Mewujudkan Daya Tangkal Terhadap Radikalisme dan Intoleransi di Kaltim.
Yunahar kembali menceritakan, ada orang muslim nonton TV Amerika waktu orang mau salat. Lalu ditanyalah orang Amerika ini. “Mister, coba lihat betapa banyaknya orang yang berada di sekeliling Kakbah, nanti disusun rapi untuk salat. Kira-kira berapa lama waktu yang diperlukan. Dia (orang Amerika) melihat banyak orang, lalu menjawab: perlu waktu dua jam,”
Orang muslim ini lalu menimpali, tetapi mister, mereka itu datang dari berbagai bangsa dan bahasanya berbeda-beda. “Wah itu, bisa lima jam,” jawabnya. Tiba-tiba, terdengar panggilan untuk memulai salat. Maka sebentar saja sudah rapi. Tidak sampai lima menit, begitu banyak orang dan sudah tersusun dengan rapi.
Tidak ada petugas yang menyusun, hanya satu seorang muazin. Dan imam hanya formalitas untuk meluruskan barisan dan merapatkan saf. “Jadi dengan keimanan, dengan mau salat, begitu mudahnya orang Islam itu diatur. Tetapi, di luar salat, Laillahaillallah. Ada rambu dilarang parkir, orang tetap parkir. Diderek mobilnya, tetap parkir. Ditilang, juga masih parkir,” katanya. (aim/rsh/k18/fab/JPG)
Demikianlah Artikel Safari Ramadan Polri-MUI: Tangkal Radikalisme dan Intoleransi
Anda sekarang membaca artikel Safari Ramadan Polri-MUI: Tangkal Radikalisme dan Intoleransi dengan alamat link https://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/safari-ramadan-polri-mui-tangkal.html
Post a Comment