Profil Ammar Zoni (Bag 1): Jadi Bandel Setelah Ibunya Meninggal Dunia
Judul : Profil Ammar Zoni (Bag 1): Jadi Bandel Setelah Ibunya Meninggal Dunia
link : Profil Ammar Zoni (Bag 1): Jadi Bandel Setelah Ibunya Meninggal Dunia
Profil Ammar Zoni (Bag 1): Jadi Bandel Setelah Ibunya Meninggal Dunia
TABLOIDBINTANG.COM - Ammar Zoni, yang ditangkap polisi karena diduga terkait kasus narkoba, mencuat namanya setelah membintangi sinetron Khanza 2, 7 Manusia Harimau dan Anak Jalanan. Ammar Zoni memiliki masa lalu yang tak sepenuhnya bahagia. Ibunya, Sri Mulyatini, wafat ketika Ammar Zoni baru kelas 6 SD. Sejak itu, Ammar Zoni cilik tumbuh menjadi anak yang bengal. Tidak sabar menghadapi polah putranya, sang ayah, Suhendri Zoni, mengirim Ammar Zoni ke Muara Labuh, Solok Selatan.
“Semenjak Ibu meninggal, saya menjadi bandel. Ayah jarang di rumah. Lelah menangani saya, akhirnya Ayah mengirim saya ke Padang. Tidak persis di Padang, karena instruksi berikutnya, saya mesti dirawat kakek dan nenek yang tinggal di Muara Labuh, Solok Selatan,” kenang aktor kelahiran Depok 8 Juni 1990.
Kali pertama menginjak Tanah Minang, Ammar Zoni terkaget-kaget. Tidak ada minimarket, layaknya mayoritas ibu kota provinsi. Yang ada, pasar tradisional yang hanya buka hari Senin dan Kamis. Kala itu, Ammar Zoni mulai berpikir mengapa ayahnya setega ini? Tapi justru di Solok Selatan, ia memetik banyak pelajaran.
Baca juga“Saya belajar survive. Lebih dari itu saya belajar sopan santun. Usia kakek saya hampir 100 tahun. Ia masih sehat, menjabat semacam ketua adat di sana. Kalau berbicara dengan beliau, pantang bagi saya menatap langsung matanya. Saya mesti menunduk. Itu bagian dari kesantunan,” terang Ammar Zoni .
Di Muara Labuh, Ammar Zoni berkenalan dengan silat luncua. Dalam bahasa setempat disebut silek luncua. Silat asli dari Muara Labuh. Ammar Zoni menekuni silat ini setahun lebih. Perlahan, penyuka warna hitam ini memberanikan diri bergabung dengan Perguruan Pencak Silat Garuda Putih (PSGP).
“Kesempatan emas datang. Mewakili PSGP, saya berlaga di sejumlah kompetisi. Salah satunya, Pekan Olahraga Daerah (Porda). Saya juara 2 untuk pencak silat kategori silat laga. Sebetulnya saya menekuni silat tradisional (silat tradisional dan silat laga berbeda). Kemenangan saya di Porda bikin saya sadar betapa silat mulai ditinggalkan generasi muda. Kala itu saya berpikir, nanti kalau pulang ke Jakarta, saya ingin mengajar pencak silat. Apesnya, setelah tiba di Jakarta saya malah 'tersesat' ke dunia model lalu jatuh cinta kepada lokasi syuting, ha ha ha!” celoteh Ammar Zoni .
Muara Labuh tidak hanya mengajar Ammar Zoni soal sopan santun dan silat. Kawasan ini mengajak Ammar lebih jauh berdamai dengan alam. Kata Ammar Zoni, jangankan mal, listrik pun langka. Penerangan menggunakan lampu tungku atau obor. Saat Ammar Zoni datang ke sana, listrik dihasilkan dari generator turbin dengan memanfaatkan aliran sungai. Mengingat listrik kadang ada, kadang tidak, Ammar Zoni harus mengucap salam perpisahan dengan ponsel dan perangkat gadget modern lain.
“Jadi kalau mau menelepon orang tua atau orang tua kangen saya, saya harus pergi ke rumah paman yang lokasinya mendekati Ibu Kota. Di rumah paman saya ada telepon. Itu pengalaman luar biasa. Saya jadi menghargai tali silaturahim. Saya merasakan kasih Ayah begitu besar,” aku Ammar Zoni.
Artikel ini pernah dimuat di Tabloid Bintang Edisi 1185 Minggu Keempat Februari 2014
Sumber: tabloidbintang.comDemikianlah Artikel Profil Ammar Zoni (Bag 1): Jadi Bandel Setelah Ibunya Meninggal Dunia
Anda sekarang membaca artikel Profil Ammar Zoni (Bag 1): Jadi Bandel Setelah Ibunya Meninggal Dunia dengan alamat link https://petuahmuda.blogspot.com/2017/07/profil-ammar-zoni-bag-1-jadi-bandel.html
Post a Comment