RESENSI FILM: Insya Allah Sah, Lucu Tapi Terlalu Ceriwis Berkhotbah
Judul : RESENSI FILM: Insya Allah Sah, Lucu Tapi Terlalu Ceriwis Berkhotbah
link : RESENSI FILM: Insya Allah Sah, Lucu Tapi Terlalu Ceriwis Berkhotbah
RESENSI FILM: Insya Allah Sah, Lucu Tapi Terlalu Ceriwis Berkhotbah
TABLOIDBINTANG.COM - Minggu, 25 Juni, empat film Indonesia dirilis di bioskop yakni Jailangkung, Sweet 20, Surat Kecil Untuk Tuhan, dan Insya Allah Sah. Sepekan kemudian, film-film itu memperlihatkan daya juang mereka. Jailangkung menjadi yang terlaris. Sweet 20 menempati posisi runner-up. Surat Kecil Untuk Tuhan di urutan ketiga, sementara film ini jadi juru kunci. Dua pekan berselang, Insya Allah Sah membalik keadaan. Saat artikel ini disusun, ia merangkul 801 ribu orang lebih, menggeser kedudukan Surat Kecil Untuk Tuhan. Apa kelebihan film ini?
Dibandingkan dengan Surat Kecil Untuk Tuhan, Insya Allah Sah lebih mudah dicintai. Film ini berwarna komedi, bicara tentang pesan moral lugas, dan dimainkan oleh orang-orang dengan latar komedi kuat kecuali Richard Kyle. Namun, bule ini tampan. Jadi, makin mudah dicintai awam.
Alur yang disajikan sutradara Benni Setiawan bukan tipikal yang ruwet. Lurus saja. Sesekali ada kilas balik untuk mengingatkan penonton meski sebenarnya, penonton tak perlu diingatkan saking mudahnya cerita ini dicerna.
Dikisahkan, Silvi (Titi Kamal) sedang apes. Ia bikin janji dengan calon suaminya, Dion (Richard Kyle) di sebuah restoran. Sayang, ia terkena macet, ditilang polisi, dan puncaknya terjebak di sebuah lift bersama laki-laki superreligius sekaligus aneh, Raka (Pandji Pragiwaksono). Berbagai usaha untuk meminta pertolongan sudah dicoba, namun bantuan tak kunjung datang. Saking putus asa, Silvi membuat nazar bahwa ia akan menjadi perempuan muslimah dan lebih baik jika bisa keluar dari lift.
Benar saja. Beberapa menit setelah nazar dibuat, lampu di lift menyala. Lift kembali berfungsi. Silvi keluar dengan selamat, menerima pinangan Dion, dan lupa pada nazar yang telah dibuat. Silvi mempertemukan Dion dengan ayah (Deddy Mizwar) dan ibunya (Lydia Kandou). Raka mengingatkan Silvi bahwa nazar kepada Sang Khalik apa pun alasannya harus dipenuhi. Namun, ia menampik nasihat itu. Sejak itu, kesialan demi kesialan menimpa Silvi.
IAS pada 45 menit pertama sangat jenaka. Titi Kamal tampil menyebalkan, sok penting, sok cantik (tapi memang cantik beneran, sih!), judes, cerewet, maunya semua yang diharapkan terwujud dalam waktu cepat. Pendek kata, egois. Karakter yang sepintas mengingatkan kita pada Petris dalam Mendadak Dangdut. Hanya, level judesnya lebih parah.
Titi Kamal tampaknya tahu betul bagaimana karakter Silvi mesti dibawakan. Dan memang, sepanjang film, ia mampu membawa Silvi menjadi pribadi yang terus berkembang. Fluktuasi emosi dijaga dengan cermat. Perubahan sifat dipresentasikan dengan tepat. Saya tidak akan lupa pada momen ketika musibah menimpa Titi Kamal, Raka hanya bisa menasihati, dan dalam puncak kekesalannya mata Titi Kamal berlinang dengan air muka penuh kekesalan. Sebuah kiriman emosi yang hebat dari seorang aktris dengan dedikasi lebih dari 20 tahun di panggung seni.
Sayangnya, penampilan Silvi eh, Titi Kamal tak diimbangi lawan main maupun gaya penyutradaraan yang trendi. Pandji Pragiwaksono tak bisa disalahkan. Memang karakter Rakanya yang kurang berkembang. Sejak awal ceriwis. Pada paruh pertama, keceriwisan Raka masih bisa dinikmati. Mendekati menit akhir, keceriwisan karakter ini terasa mengganggu. Dengan berfokus pada Silvi saja, kita tahu bahwa ada yang salah dari hidupnya dan mesti diperbaiki.
Sementara Richard Kyle, ya sudahlah ya. Sebagai pemain anyar, keputusannya untuk menjajal berbagai genre termasuk komedi layak diapresiasi. Bagian yang paling disayangkan dari Insya Allah Sah sebenarnya pengembangan naskah dari Benni Setiawan. Semakin mendekati akhir, proses penyelesaian konflik terasa instan dan jauh dari kata real. Insya Allah Sah dari sebuah film menjelma menjadi suguhan sekelas FTV hidayah. Bahwa semua masalah akan selesai ketika Anda berubah (penampilan).
Faktanya, tak semua perubahan mampu menyelesaikan masalah. Terlalu banyak khotbah dan kilas balik yang sebenarnya tidak penting. Karena pada dasarnya, dengan berpijak pada perkembangan karakter dan pergerakan gambar, kita tahu Silvi perlu berubah. Raka tak perlu terlalu ceriwis, dan Richard Kyle tentunya tak puas jika tak punya background kuat sebagai pendamping Silvi.
Pemain : Pandji Pragiwaksono, Titi Kamal, Richard Kyle, Lydia Kandou, Deddy Mizwar
Produser : Manoj Punjabi
Sutradara : Benni Setiawan
Penulis : Benni Setiawan
Produksi : MD Pictures
Durasi : 83 menit
(wyn / bin)
Sumber: tabloidbintang.comDemikianlah Artikel RESENSI FILM: Insya Allah Sah, Lucu Tapi Terlalu Ceriwis Berkhotbah
Anda sekarang membaca artikel RESENSI FILM: Insya Allah Sah, Lucu Tapi Terlalu Ceriwis Berkhotbah dengan alamat link https://petuahmuda.blogspot.com/2017/07/resensi-film-insya-allah-sah-lucu-tapi.html
Post a Comment