Duel Maut Bocah SD di Sukabumi
Judul : Duel Maut Bocah SD di Sukabumi
link : Duel Maut Bocah SD di Sukabumi
Duel Maut Bocah SD di Sukabumi
:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/937364/original/035696900_1437967494-20150727-Hari-Pertama-Masuk-Sekolah-Jakarta3.jpg)
Komisi Perlindungan Anak Indonesia menilai peristiwa duel maut ini merupakan bukti sekolah belum menjadi tempat aman bagi anak.
"Sekolah aman dan nyaman bagi anak didik ternyata masih jauh dari harapan," kata Komisioner KPAI Retno Listyarti melalui siaran pers, Jakarta, Rabu 9 Agustus 2017.
Menurut dia, apapun alasannya, sekolah seharusnya mampu menciptakan lingkungan yang aman bagi pelajar. Peristiwa ini merupakan keteledoran sekolah dalam mengawasi siswa-siswinya.
"Pembelaan sekolah dengan menyatakan bahwa peristiwa kekerasan yang menimpa SR terjadi di belakang kantor, sementara pendidik fokus mengawasi pelajar di depan kantor, tetap tidak bisa di tolerir," ujar Retno.
Berkaca dari peristiwa ini dan banyaknya kasus-kasus kekerasan di sekolah yang diterima di pengaduan KPAI, Kemdikbud RI harus meninjau kembali kebijakan menambah jam sekolah. Sebab, lanjut dia, sistem pengawasan di banyak sekolah masih lemah. Ini telah membuat sekolah tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak.
Kepala Seksi Kesiswaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi Asep Saepudin mengungkap, SDN Longkewang ini ternyata kekurangan guru dan ruang kelas.
Menurut dia, untuk kekurangan guru dalam waktu dekat akan diatasi. Namun, pihaknya belum menyebutkan apakah kasus tewasnya SR warga Kampung Citiris, Desa Hegarmanah yang diduga akibat berkelahi dengan rekannya berinisial DR ada kaitannya dengan kekurangan personel guru tersebut.
Namun, pihaknya menyebutkan bahwa kasus tewasnya bocah SD itu merupakan musibah. Perihal kekurangan lokal kelas, ia berencana untuk berkoordinasi dengan seksi lainnya di Disdik, karena pelajar kelas II harus masuk siang atau pukul 10.00 WIB setelah kelas I pulang sekolah.
Selain itu, pihaknya juga akan memantau pelayanan pendidikan di SD ini, apakah dengan jumlah guru tersebut, seluruh pelajar bisa menyerap ilmu yang diberikan pendidikan atau tidak.
"Pasca-kejadian ini, kami akan evaluasi kekurangan sekolah dan tidak hanya SDN Longkewang saja, tetapi sekolah lainnya juga agar tidak terjadi kasus serupa," kata Asep.
Sementara itu, Kepala SDN Longkewang Ade Rohman Gunawan mengatakan, jumlah guru di sekolahnya ada 10 orang, termasuk kepala sekolah. Dari jumlah tersebut, ada enam guru PNS dan sisanya honorer dan operator.
Jumlah siswa dari kelas I sampai VI ada sebanyak 92 orang atau rata-rata jumlah siswa setiap kelas sebanyak 15 orang.
Bahkan untuk kelas 1, hanya 11 orang sehingga komposisi guru dan pelajarnya bisa dikatakan memadai.
Ia mengakui jika ruang kelas kurang sehingga kelas 2 harus belajar siang. Namun, mayoritas siswa kelas 2 SD itu datang ke sekolah pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB walau jadwal masuknya pukul 10.00 WIB.
"Kejadian meninggalnya SR bukan saat jam sekolah, walaupun lokasi kejadiannya ada di halaman sekolah. Setiap harinya, ada guru yang bersiaga datang lebih awal dari muridnya untuk memantau setiap kegiatan anak didiknya tersebut," kata Ade.
Sumber: liputan6.comDemikianlah Artikel Duel Maut Bocah SD di Sukabumi
Anda sekarang membaca artikel Duel Maut Bocah SD di Sukabumi dengan alamat link https://petuahmuda.blogspot.com/2017/08/duel-maut-bocah-sd-di-sukabumi.html
Post a Comment