Header Ads

Kode untuk Republik, Catatan Perang Tersembunyi Zaman Berjuang

Kode untuk Republik, Catatan Perang Tersembunyi Zaman Berjuang - Hallo sahabat Petuah Muda, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Kode untuk Republik, Catatan Perang Tersembunyi Zaman Berjuang, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Kode untuk Republik, Catatan Perang Tersembunyi Zaman Berjuang
link : Kode untuk Republik, Catatan Perang Tersembunyi Zaman Berjuang

Baca juga


Kode untuk Republik, Catatan Perang Tersembunyi Zaman Berjuang

Ketika pasukan Belanda merangsek hampir ke seluruh Yogya dan sampai di jembatan Gondolayu, Kabag Pendidikan Dinas Kode, Kapten Santoso memberi perintah para Code Officer agar meloloskan diri dengan berbagai cara.

Santoso bersama Letda Sumarkidjo dan Letda Soedijatmo kemudian menuju desa Dekso di Kulonprogo. Di Dekso inilah, dengan bermodal sebuah pemancar radio, ia menjalin komunikasi dengan kaum republikan. Hingga dr. Roebiono Kertapati bisa mengkonsolidasikan kekuatan dinas Kode.


Di Desa Dekso ini pula, pertama kali didirikan Kamar Kode di bawah naungan Satuan Perhubungan (PHB) Angkatan Perang. Perhubungan menjadi urat syaraf dan roh yang menghidupkan strategi perang gerilya. Perang ini digelar dengan arsitek perang A.H Nasution.


"Pak Nasution mengeluarkan instruksi yang disebut Renraku pada 7 Januari 1949. Diambil dari bahasa Jepang Ren yang artinya komunikasi," kata Pratama.


Renraku mengatur soal penyamaran, pembakaran/pemusnahan dokumen, aturan para kurir, pemakaian kode atau sandi tertentu, dan pembentukan pos X secara beranting sebagai jalan gerilya. Pos X ini membentang dari Subang Rancah di barat hingga Probolinggo di Jawa Timur.


Pos-pos yang dibentuk ini memiliki pemutakhiran informai melalui radio siaran. Angkatan Udara RI memiliki 39 stasiun radio penghubung dan tersebar di berbagai tempat. Radio ini mengudara setiap malam jam 19.00-20.00 dengan materi siaran berupa laporan dri garis depan pertempuran, pengumuman pemerintahan militer, radiogram dari pemerintahan darurat, dan sejenisnya. Semua bertujuan mengkonsolidasikan pasukan gerilya.


Catatan Kolonel TB Simatupang yang tertuang dalam buku "Laporan Dari Banaran" menyebutkan bahwa staf penerangan dari Markas Besar Komando Djawa (MBKD) di Boro, Kulonprogo dan markas sandi negara di Dekso membuat pemancar-pemancar kecil yang terhubung dengan radio perhubungan yang ada di Banaran, Playen Gunung Kidul, dan Balong. Semua di-relay melalui pemancar kecil dan bisa diterima hingga Jakarta, Sumatera, bahkan akhirnya bisa sampai New Delhi.


Sebelum mengenkripsi pesan, petugas sandi mendiskusikan jenis enkripsi yang akan digunakan. (foto : Liputan6.com/kode untuk republik/edhie prayitno ige)


Meskipun para pemimpin Republik dan pemimpin politik sudah ditahan dan dibuang, namun perjuangan berlanjut. Hal itu tertuang dalam radiogram Hatta yang dikaburkan dengan sandi hingga sampai ke stasiun radio dengan selamat dan disiarkan.


"Pemerintah Republik Indonesia di Yogya dikepung musuh dan tidak dapat melakukan tugas kewajibannya, tetapi persiapan telah diadakan untuk meneruskan pemerintah Republik Indonesia di Sumatera. Apapun yang terjadi dengan orang-orang pemerintah yang ada di Yogya, perjuangan diteruskan," demikian pesan Hatta yang sukses disiarkan Sabar Wijoyomukti dari radio AURI ketika Yogya diserbu.


Sebagai panduan, dr Roebiono Kertopati menyusun Buku Kode C yang disusun selama dua bulan. Buku ini berisi sekitar 10.000 kata bahasa Indonesia dan sistem-sistem sandi lain yang sangat bersifat operasional. Buku ini dikerjakan dengan ditulis tangan, agar bisa cepat selesai Roebiono mengerjakan dalam kamar tertutup yang dijaga ketat dan ditulis menggunakan tangan kanan dan tangan kiri.


Pada 2017, umur Republik 72 tahun. Teknologi pembuat sandi sudah sangat maju dengan pesat. Enkripsi kini merambah dunia sipil, termasuk munculnya aplikasi-aplikasi percakapan yang anti sadap.


Namun selama 2000 tahun, pola yang terbangun dalam dunia kriptografi masih sama. Ada pengguna yang butuh kerahasiaan, ada sekelompok elit cerdas yang mengkodefikasi, dan ada publik yang tak tahu apa-apa.


Kriptografi di dunia digital ketika semua terhubung dengan internet seperti tentara yang menjadi benteng negara. Tanpa kriptografi canggih, sebuah negara atau lembaga, atau organisasi akan sangat mudah disusupi musuh dan ditaklukkan dari dalam.


"Chryptography is the essential building block of independence for organizations on the internet, just like armies are the essential building blocks of states, because otherwise one state just takes over another," kata Julian Assange, pendiri Wikilieaks.

Sumber: liputan6.com


Demikianlah Artikel Kode untuk Republik, Catatan Perang Tersembunyi Zaman Berjuang

Sekianlah artikel Kode untuk Republik, Catatan Perang Tersembunyi Zaman Berjuang kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Kode untuk Republik, Catatan Perang Tersembunyi Zaman Berjuang dengan alamat link https://petuahmuda.blogspot.com/2017/08/kode-untuk-republik-catatan-perang.html
Powered by Blogger.