Header Ads

Kedahsyatan “Raw Food”

Kedahsyatan “Raw Food” - Hallo sahabat Petuah Muda, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Kedahsyatan “Raw Food”, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Kedahsyatan “Raw Food”
link : Kedahsyatan “Raw Food”

Baca juga


Kedahsyatan “Raw Food”


Pasca – Lebaran, biasanya banyak orang tepar akibat makanan yang mereka konsumsi, penuh dengan kandungan glukosa, lemak, kolesterol dan purin (penyebab asam urat). Para dokter dan ahli pijat yang bisa memperbaiki aliran darah dan proses metabolisme tubuh, dibanjiri banyak pasien.


Makanan memang bisa membuat sehat. Namun juga sebaliknya, dapat mendatangkan penyakit. Penulis jadi teringat artikel yang dikirim seorang teman vegetarian. Artikel itu adalah testimoni Victoria Boutenko tentang raw food (makanan mentah) yang menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari kematian. Victoria, suaminya, Igor, dan kedua anaknya, Sergei dan Valya, memang menderita sakit parah sejak lama. ”Tahun 1993 kami semua sekarat,” tulis, imigran Rusia, yang jadi warga AS itu. Victoria, 38 tahun, menderita arrythmia, yaitu detak jantung yang tidak biasa.


Berat badannya140 kilogram. Dia terus menerus merasa capai dan depresi. Dokternya pun angkat tangan dan menyuruhnya lebih sering berdoa. Suaminya menderita hipertiroid progresif dan rematoid artritis kronis. Pada usia 38 tahun kesehatannya sudah rusak total. Denyut jantungnya hampir selalu 140+, matanya selalu berair pada siang hari, dan tangannya gemetar. Anak perempuannya, Valya, terlahir dengan asma dan alergi.


Mukanya pucat, dan hidupnya banyak duduk karena dia akan batuk dan tersedak bila berlari atau melompat. Tahun 1993, pada usia 8 tahun, hampir setiap malam dia bangun karena batuk yang terus menerus.


Anak laki-lakinya, Sergei, didiagnosis menderita diabetes pada usia 9 tahun. September 1993 dokter memberitahu bahwa Sergei harus diberi insulin. Mereka sangat terpukul. Nenek Victoria yang kena diabetes, belum lama meninggal karena overdosis insulin.


Bertemu ”Malaikat” Penolong


Dua bulan kemudian keajaiban terjadi! Dalam antrian bank yang letaknya hanya dua blok dari rumah, Victoria melihat nenek yang ”kulitnya besinar” dan terlihat sangat sehat. Elisabeth, nama nenek itu.


Dari percakapan yang terjadi, Victoria tahu teman barunya itu pernah kena kanker stadium 4, duapuluh tahun lalu. Di sembuh oleh raw food. Dan Elisabeth meyakinkannya diabetes yang diderita Sergei pun bisa disembuhkan dengan raw food. ”Saya dan Elisabeth duduk di luar bank dan dia bercerita tentang makanan mentah. Awalnya, saya sangat kecewa. Saya mencari jawaban yang lebih serius.


Saya akan bekerja keras dan membayar berapapun untuk ramuan obat yang mujarab. Makanan mentah terdengar terlalu simpel. Saya pernah mendengar tentang makanan mentah dan saya tidak senaif itu untuk percaya,”tulis Victoria. Victoria bertanya kepada Elisabeth, apakah manusia bisa hidup hanya dengan buah, sayuran, kacang-kacangan dan biji-bijian, mentah?


Yang ditanya menjawab dengan tiga hal: ”Pertama, manusia tidak datang ke dunia dengan kompor menempel di perut. Kedua, hewan tidak memasak makanan mereka. Dan ketiga, saya (Elisabeth) hanya makan raw food selama 20 tahun dan sembuh dari kanker usus. ” Jawaban itu, bagi Victoria, yang jauh dari ilmiah, tetapi dia tidak dapat membantahnya. Selain itu, dia sangat terkesan dengan penampilan Elisabeth yang terlihat sangat muda. Victoria akhirnya memutuskan untuk mencoba makanan mentah bagi mereka sekeluarga.


Dia mengajak suaminya untuk mendukungnya. Tapi yang didapatnya adalah reaksi kemarahan. ”Saya orang Rusia, tidak bisa hidup dengan makanan kelinci. Coba pikir, seseorang harus belajar selama 14 tahun untuk menjadi dokter. Pemerintah telah mengeluarkan bilyunan dollar untuk penelitian medis.


Apakah menurutmu mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan? Kalau menjadi sehat segampang itu, para dokter sudah melakukannya sejak dulu.” Victoria kecewa, namun tak menyerah. Suatu hari suaminya bangun dengan rasa sakit di tenggorokan yang teramat sangat. Setelah melihat hasil tes darah, dokter menyuruhnya operasi, karena tiroidnya sudah tidak bagus lagi dan harus diambil. Igor protes. Dia sudah menjalani sembilan kali operasi. Tidak satupun membantu. Dia memutuskan untuk tidak akan menjalani operasi lagi sepanjang hidupnya. Dia mulai bepikir untuk menjalani diet raw food.


Titik Balik


”Hari itu, 21 Januari 1994 adalah titik balik dalam sejarah kesehatan keluarga kami. Semenjak itu seluruh keluarga menjalankan pola makan makanan mentah,” tulis victoria Boutenko Victoria menyadari, raw food bisa menjadi satu-satunya kesempatan untuk melakukan perubahan besar.


Saat sang suami pergi kerja dan anak-anaknya di sekolah, ia memeriksa makanan di kulkas dan menemukan bahwa hampir tidak ada makanan mentah di sana. Dia menyingkirkan semuanya! Victoria mengambil kantong sampah besar dan membuang semua makaroni, sereal, nasi, makanan kecil, es lilin, busa krim kental, roti, saus, keju, dan tuna kaleng.


Selanjutnya menyingkirkan mesin pembuat kopi, pemanggang roti, dan mesin pembuat pasta. Lalu dia segera pergi ke supermarket. Dia penuhi keranjang belanja dengan hanya apel, jeruk, dan pisang. Saat anak-anak pulang sekolah dan Igor pulang kerja, mereka bertanya, ”Apa makan malamnya?” Victoria minta mereka lihat ke kulkas. Anak-anak tidak percaya apa yang mereka lihat. ”Dimana camilan untuk nonton TV?


Kemana semua es krim?” Sergei berkata, ”Lebih baik saya disuntik insulin seumur hidup daripada harus ikut pola makan gila ini.” Mereka menolak untuk makan dan pergi ke kamar. Mereka merasa lapar, tidak nyaman, aneh, dan tersesat. Tidak bisa tidur karena lapar, Victoria mendengar langkah kaki di dapur dan suara pintu kulkas dibuka dan ditutup. Esoknya, tidak seperti biasanya, mereka bangun lebih awal dan berkumpul di dapur.


Victoria melihat banyak kulit pisang dan kulit jeruk di pojok. Valya bercerita bahwa dia tidak batuk malam itu. Sergei memeriksa gula darahnya. Masih tinggi, tapi lebih rendah daripada beberapa pekan terakhir. Igor dan Victoria merasakan penambahan energi, dan secara umum, merasa lebih ringan dan positif.


Mereka juga merasa sangat lapar. Beralih ke pola makan mentah itu sangat berat bagi mereka berempat. Tubuh meminta makanan yang biasa dimakan. Dari hari pertama, dan sampai beberapa minggu sesudahnya, menit demi menit, Victoria selalu melamun membayangkan sup panas, cokelat, dan bermacam-macam keripik.


Peningkatan Energi


Sementara itu, terlihat perubahan positif yang cepat. Batuk Valya di malam hari berhenti, dan dia tidak pernah mendapat serangan asma lagi. Gula darah Sergei mulai stabil dengan teratur. Tenggorokan Igor berangsur normal kembali. Denyutnya menurun, dan gejala hipertiroidnya berkurang dari hari ke hari. Setelah sebulan mengonsumsi makanan mentah, Sergei bertanya mengapa dia harus mencek gula darahnya setiap tiga jam karena sekarang sudah konsisten dalam skala normal. Victoria berkata padanya untuk mengecek sekali saja pada pagi hari. Denyut Igor turun jadi 90, yang tidak pernah dicapai bertahun-tahun. Valya sekarang bisa berlari seperempat mil di sekolah, tanpa batuk.


Victoria turun 15 pon (7-8 kg). Mereka semua merasa sangat berenergi. ”Saya sendiri merasa sangat berenergi sehingga saya tidak bisa berjalan lagi—saya selalu berlari! Saya berlari dari tempat parkir ke toko dan di lorong dan naik turun tangga di rumah kami.


Kami harus melakukan olahraga untuk menyalurkan energi ekstra yang kami punyai sekarang.” Victoria pernah membaca bahwa lari adalah keharusan bagi penderita diabetes. Si pengarang buku menjelaskan bahwa saat berolahraga, otot memproduksi tambahan insulin.


Maka, mereka memutuskan untuk berlari bersama sekeluarga. Secara berkala, gula darah Sergei menjadi stabil dengan pola makan barunya dan jogging teratur. Sejak memulai pola makan mentah sampai sekarang, dia tidak pernah lagi merasakan gejala-gejala diabetes. Agar anak-anak bersemangat jogging, Victoria mendaftarkan seluruh anggota keluarganhya dalam sebuah lomba lari. Karena tidak pernah lari sebelumnya, mereka memilih jarak terpendek, yaitu 1 km, di Denver’s Washington Park. Mereka berlomba dengan anak-anak kecil. Tapi mereka tidak mempedulikannya.


Yang dipikirkan adalah berusaha mencapai garis finish. Di sepanjang arena lomba, terdengar suara para orang tua yang mengantar anak-anaknya dan menonton lomba, menyemangati mereka. Akhirnya finish itu tercapai juga. Dan masing-masing mendapatkan medali ”Juara Pertama Kelompok Usia Muda”, penghargaan atletik pertama dalam hidup mereka. Sergei dan Valya sangat gembira. Mereka tidak mau melepas medali itu selama seminggu; bahkan membawanya tidur. Mereka memohon untuk didaftarkan lomba lagi, dan Victoria mewujudkannya. Semenjak itu, mereka mengikuti lomba hampir setiap akhir minggu. Pada Memorial Day tahun itu, empat bulan sesudah berpola makan mentah, dan Victoria telah bisa menghilangkan puluhan kilo bobot tubuhnya, mereka mengikuti Bolder Boulder Race, lari sepuluh kilometer bersama empatpuluh ribu pelari lainnya.


Berlari di antara orang-orang yang tampak sehat, di mana banyak di antaranya pelari berpengalaman, adalah hal yang luar biasa. Sangat sulit bagi mereka untuk membayangkan bahwa empat bulan sebelumnya, mereka semua sakit dengan tidak ada harapan.


Keunggulan Raw Food


Tidak ada keraguan bahwa kesehatan mereka berhubungan dengan pola makan. ”Dan saya tahu bahwa saya tidak lagi sekarat. Bagaimana saya bisa berlari sepuluh kilometer jika saya sedang sekarat?


Kami sangat menghargai bahwa kesehatan kami membaik dengan cepat,” tulisnya. Raw food memang akhirnya mengubah hidup keluarga Boutenko. Victoria kemudian dikenal sebagai propagandis makanan mentah yang aktif. Ia menulis banyak buku, mengajar, menciptakan berbagai varian resep makanan mentah, hingga akhirnya jadi tokoh raw food terkemuka di Amerika. Raw food adalah live food, kata Victoria.


Yang membuat raw food lebih berkualitas dari makanan olahan adalah kandungan enzimnya yang masih terjaga. ”Keduanya mungkin masih mengandung kalsium, potassium, sodium, magnesium, zinc dan copper yang sama. Perbedaannya adalah yang satu membawa enzim kehidupan, yang lain tidak.” Dan, menurut Boutenko, dengan mengkonsumsi makanan yang didominasi makanan olahan, rata-rata orang terus-menerus menghamburkan sumber enzim mereka sendiri yang terbatas untuk mencerna makanan matang. Dan, dan pada usia 40, sebagian besar enzim mereka benar-benar terkuras. (Anto Prabowo)


Comments

comments

Sumber: suaramerdeka.com


Demikianlah Artikel Kedahsyatan “Raw Food”

Sekianlah artikel Kedahsyatan “Raw Food” kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Kedahsyatan “Raw Food” dengan alamat link http://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/kedahsyatan-raw-food.html
Powered by Blogger.