Header Ads

Pesan Penting dari Pemilu Inggris: Kampanye Menyebar Fitnah Gatot

Pesan Penting dari Pemilu Inggris: Kampanye Menyebar Fitnah Gatot - Hallo sahabat Petuah Muda, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Pesan Penting dari Pemilu Inggris: Kampanye Menyebar Fitnah Gatot, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Pesan Penting dari Pemilu Inggris: Kampanye Menyebar Fitnah Gatot
link : Pesan Penting dari Pemilu Inggris: Kampanye Menyebar Fitnah Gatot

Baca juga


Pesan Penting dari Pemilu Inggris: Kampanye Menyebar Fitnah Gatot

Hasilnya? Barangkali ini yang disebut ”karma politik”. Setelah suaranya tereduksi habis-habisan, Tory –sebutan Partai Konservatif– kini harus menjilat fitnah mereka sendiri. Mereka gatot alias gagal total. Dengan hanya mengantongi 318 kursi, untuk bisa membentuk pemerintahan, partai yang dipimpin Perdana Menteri Theresa May itu mesti merayu Partai Uni Demokrasi (UDP) yang memiliki 10 seat. Sebab, syarat minimalnya adalah 326 kursi.

Padahal, partai yang berbasis di Irlandia Utara itu dikenal memiliki hubungan dekat dengan Ulster Defence Association (UDA). Meski tak sepopuler IRA, UDA dikenal sebagai kelompok teroris keji.

Belum lama ini, anggota paramiliter UDA menghabisi seorang pria di depan umum dengan sadis. Bahkan di hadapan anak si korban yang masih berusia tiga tahun.

Itu pun, sejauh ini UDP masih ”jual mahal”. ”Masih terlalu dini untuk berbicara tentang kesepakatan. Kami akan bertemu dulu,” kata Ketua UDP Arlene Foster kepada Radio Ulster. Nah, lho!

Dan, Pemilu Legislatif Inggris yang baru berakhir itu mengandung banyak sisi nah lho, nah lho yang lain. Mulai anak-anak muda yang mengoreksi kepongahan orang tua sampai para ”majikan” yang untuk kali pertama seiya sekata dengan para ”karyawan” mereka.

Louise Traynor termasuk anak muda yang bergabung dengan barisan pengoreksi generasi tua. Dia datang ke tempat pemungutan suara (TPS) bersama jutaan pemilih segenerasinya dan memberikan vote mereka kepada Partai Buruh yang dipimpin Jeremy Corbyn.

Itu tak dilakukannya saat referendum untuk menentukan apakah Inggris bertahan atau keluar dari Uni Eropa (UE) lalu. Seperti diketahui, referendum tersebut menghasilkan Brexit. Inggris keluar dari UE.

Kemenangan kubu Leave kala itu tak lepas dari rendahnya angka kehadiran pemilih muda ke TPS. ”Betapa bodohnya saya waktu itu,” ujar waitress yang bekerja di Distrik Battersea, London, tersebut.

Brexit bagi generasi muda Inggris adalah momok. Sebab, mereka tidak akan lagi bisa bebas keluar masuk negara-negara UE. Entah untuk tujuan studi maupun wisata.

Mereka juga tidak akan bisa lagi leluasa mencari peluang kerja ke negara-negara UE. Semuanya akan terkendala dokumen perjalanan, izin, dan biaya. ”Hubungan yang lama saya bina dengan pacar yang warga negara Spanyol juga ikut terancam,” ucap Traynor.

Dibandingkan dengan Pemilu Legislatif 2015, partisipasi pemilih muda di pemilu kali ini memang jauh lebih tinggi. Mencapai 72 persen, sedangkan dua tahun lalu hanya 43 persen.

Dibandingkan dengan saat referendum, juga ada kenaikan 8 persen. Total, jumlah pemilih muda dalam pemilu legislatif Kamis mencapai 1,05 juta. Sebanyak 25 persen di antaranya adalah pemilih yang berusia di bawah 25 tahun.

Padahal, saat kali pertama pemilu sela diumumkan, hanya ada 57.987 pemilih berusia di bawah 25 tahun yang mendaftarkan diri. Namun, menjelang akhir Mei, jumlah itu bertambah 246.480 orang.

Sebagian besar memilih Partai Buruh yang menentang Brexit. Di sisi lain, Tory merupakan pengusung utama perceraian dengan Uni Eropa itu.

Jika May kelak akhirnya menyerah terhadap tekanan untuk mundur dan Corbyn yang jadi pengganti, pemimpin Partai Buruh itulah yang akan bernegosiasi dengan UE terkait Brexit.

Bisa dipastikan agenda Brexit otomatis bakal berubah. Dengan kalimat lain, Youthquake –demikian sebutan untuk gelombang tingginya partisipasi anak-anak muda di pemilu kali ini– tak sia-sia.

Partai Buruh total mendapatkan tambahan 30 kursi di pemilu kali ini. Sedangkan Tory kehilangan 12 kursi. Nah, salah satu kursi yang hilang itu terjadi di Kensington yang sepanjang sejarah selalu jadi milik Konservatif.

Emma Coad, wakil Buruh yang bertarung di Kensington, memenangi pertarungan melawan wakil Tory Victoria Borwick. Coad unggul 20 suara dalam penghitungan yang dilakukan berulang-ulang.

Cuma satu kursi memang. Tapi, dampak psikologis sungguh besar. Sebab, demografi Kensington itu Tory banget: distrik elite, berisi juragan-juragan kaya raya, dan kulit putih (AFP/Reuters/BBC/CNN/theguardian/theindependent/themirror/hep/c10/ttg)

Sumber: jawapos.com


Demikianlah Artikel Pesan Penting dari Pemilu Inggris: Kampanye Menyebar Fitnah Gatot

Sekianlah artikel Pesan Penting dari Pemilu Inggris: Kampanye Menyebar Fitnah Gatot kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Pesan Penting dari Pemilu Inggris: Kampanye Menyebar Fitnah Gatot dengan alamat link https://petuahmuda.blogspot.com/2017/06/pesan-penting-dari-pemilu-inggris.html
Powered by Blogger.